It’s All About Money… Money… Money

 

-Late post-

Dan pertandingan yang katanya akan menjadi pertandingan tinju paling seru abad ini, diakhiri dengan kekecewaan para penggemar-penggemarnya. Paling tidak itu yang terjadi pada Bapak saya dan penggemar-penggemar tinju seluruh dunia-yang-pada-ngomel-ngomel-di- twitter. Setelah pertandingan selesai para komentator di stasiun tv yang menanyangkan pertandingan tersebut terkejut dengan hasil pertandingan yang diumumkan wasit. Menurut pengamatan mereka, seharusnya Manny Pacquiao menjadi pemenang. Karena Pacquiao lebih sering melancarkan serangan dan berhasil mendaratkan tinju di wajah dan perut Floyd Mayweather. Yang saya lihat sih juga seperti itu, Si Paquaiao lebih agresif melancarkan pukulan sedangkan si Mayweather sibuk mundur-mundur cantik. Maaf jika ulasan saya berantakan. Maklum saya bukan reporter olahraga. Hehe. Tapi semoga mengerti maksud saya. Jadi, intinya si Mayweather menang dengan angka mutlak.

Oke, saya disini tidak akan memperdebatkan siapa seharusnya menang dan siapa yang kalah dan jurinya jujur atau tidak. Karena bukan bidang saya. Namun, meskipun saya awam terhadap olahraga ini seringkali saya nimbrung ketika bapak nonton tinju, dan sering juga bertanya bagaiman aturan permainan dalam tinju, jadi sedikit saya tahu lah tentang olahraga ini. Yang menarik perhatian saya sejak awal adalah ketika sebelum pertandingan dimulai , para komentator olahraga tersebut ribut mendiskusikan berapa banyak biaya yang keluar untuk menyelenggarakan pertandingan tersebut. Mulai harga tiket yang paling murah seharga 1.5 Miliar rupiah, si Mayweater yang menjadi atlit dengan bayaran paling mahal sedunia sampai sabuk kemenangan yang katanya dihiasi banyak batu mulia bernilai miliaran rupiah! Kemudian katanya lagi, si pemenang, selain mendapatkan sabuk kemenangan miliaran rupiah itu, dia juga akan mendapatkan bagian keuntungan dari penjualan tiket seharga miliaran rupiah itu juga. Yang kemudian secara spontan terlintas di fikiran saya ketika mendengar hal tersebut adalah,  jadi, ini semua tentang uang? Bukan pertandingannya?? Jadi, ini bisnis.

Oke, fenomena “jual beli” atlit dan membandrolnya dengan harga mahal sudah menjadi hal lumrah didunia bisnis olahraga. Saya juga tidak terlalu peduli dengan fenomena tersebut. Tapi, etah kenapa, pikiran saya sedikit usil mengenai pertandingan tinju kemarin itu. Bapak saya adalah seorang penggemar berat olahraga tinju. Beliau mengatakan pertandingan tinju kemarin itu “gak bener”. Kata beliau lagi, rugi banget orang yang membeli tiket mahal-mahal tapi disuguhi pertandingan gak seru dan gak se-spektakuler biaya triliunan rupiah yang dihabiskan untuk menggelar pertandingan tersebut. Menurutku, kok mubazir banget gitu. Kok hedonis banget orang-orang ini. Hehe. Atau karena saya masih terpengaruh oleh bacaan yang saya baca?

Iya, jadi ceritanya begini. Sabtu sore saya baca-baca literatur Cak Nun, yang kira-kira isinya seperti ini: Ada orang kuat, orang pintar, orang berkuasa, orang kaya dan orang baik (mulia). Kita harus bisa menentukan urutan-urutan strata ini sesuai dengan derajat yang tertinggi, apabila kita berhasil mengurutkannya maka kita akan sangat jelas melihat apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Di Indonesia saat ini Orang Kaya adalah posisi yang paling atas dan yang paling diidam-idamkan oleh semua orang. Orang Pintar menggunakan kepintarannya agar dia menjadi kaya. Orang Kuasa menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya dirinya. Orang Kuat menggunakan kekuatannya untuk memperkaya diri. Bahkan orang baik (mulia) pun menggunakan apa yang dimilikinya untuk menjadi orang kaya. Maka kita melihat fenomena ustadz-ustadz yang muncul di televisi saat ini adalah produk dari kegagalan manusia Indonesia dalam menempatkan dirinya. Dalam sejarah berkembangnya Islam di Indonesia. Pada abad ke 7 Islam sudah masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang, namun tidak dipercaya oleh masyarakat di Nusantara karena mereka tidak percaya kepada orang kaya, namun ketika Walisongo yang memperkenalkan Islam kepada masyarakat Nusantara, Islam dapat diterima dan menyebar luas karena masyarakat sangat percaya kepada orang mulia. Namun yang terjadi sekarang justru terbalik, kita lebih menginginkan menjadi orang kaya, bukan menjadi orang baik. Karena orang kaya menjadi tujuan utama, maka yang terjadi adalah orang kuat, orang pintar, orang kuasa semua berlomba-lomba menjadi orang kaya.

Masih dengan pemikiran Cak Nun:

Sekarang, apa saja dibikin “barang dagangan”. Apa yang bukan barang dagangan di Indonesia. Petani makmur menjadi “barang dagangan” untuk mengimpor pupuk. Kemudian para petani kesusahan karena biaya pupuk lebih tinggi daripada hasil panen, sehingga ketika para petani terpuruk, mereka tetap dijadikan “barang dagangan” untuk mengimpor beras. Rakyat kaya dijadikan barang dagangan, rakyat miskin dijadikan barang dagangan.

Hmmm… jadi sekarang ini It’s all about money.  Semua orang sepertinya ingin menjadi kaya. Karena semua orang ingin menjadi kaya, semua jadi barang dagangan, semua dibisniskan. Saya bukannya anti bisnis atau anti uang, Lah wong saya kerjanya juga membantu orang dengan bisnis mereka. Saya anti uang? Ya gak mungkin lahhh! Saya masih butuh uang. Gimana gak butuh uang, lah wong sekarang beli air mineral saja butuh uang kan? Air yang dilimpahkan Tuhan segitu banyaknya untuk manusia, gratis, nyatanya dikuasai beberapa orang dan dibisniskan. hehe. Kesehatan dan Jiwa pun juga dibisniskan melalui asuransi. Hehe

Ah, ya sudalah……

 

sumber: disini dan disini

Iklan

Penulis: ahjummah

Sedang sibuk cari Jodoh, itu pun masih di sambi dengan nonton Drama Korea dan baca buku

4 thoughts on “It’s All About Money… Money… Money”

  1. semua kembali ke permasalahan ekonomi ya ._. duit-duit dan duit yang berkuasa -_- kampret pisan

    Eh, yang masalah tinju itu, aku nggak mudeng sebenernya, tapi emang iya kayaknya, harusnya si pacman yang menang ._.

    1. Kalau dilihat sih iya. Padahal kan pertandingam tinju bakalan tetep seru dan banyak yang nonton meskipun si may bukan petinju dg bayaran termahal atau sabuk kemenangannya tidak berhiaskan permata… Hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s