Suara Hati Seorang Mantan Holiwuder Ketika Menonton Kembali Film-Film Hollywood Setelah Sekian Lama Terlena Dengan Drama Korea

Jangan dikira saya ini  penikmat drama korea sejak dalam kandungan. Sebelum mengandrungi drama-drama dari negeri oppa-oppa itu, saya dulunya hobi nonton film holiwud. Hobi nonton film ini sepertinya copycat dari Bapak saya. Bapak saya, dulu, hampir setiap malam nonton film-film cina yang ditayangkan di televisi. Lah karena saya ini nginthil (red:lengket) sekali sama Bapak, setiap malam saya jadi ikut-ikutan nonton film. Kebiasaan nonton film berlanjut hingga saya dewasa. Saat jamannya nonton film lewat CD/DVD, saya rajin sekali pinjam CD film-film di rental film. Apalagi ketika tetangga sebelah rumah buka movie rental, behh…! setiap ada sisa uang saku pasti pinjam. Segala jenis genre film saya lihat: action, romance, animation (kartun), horor, thriller. Tapi yang paling saya suka film-film eksyen. Super Hero, tembak-tembakan, detektif-detektifan (?).

Singkat cerita akhirnya saya klepek-klepek dengan pesona Ahjussi dan oppa-oppa itu dan menjadi penikmat drama korea. Dulu sebelum saya bisa download drama korea sendiri dan sebelum mengikuti drama on going, saya masih sempat nonton film-film holiwud. Tapi setelah itu film-film holiwud tidak sempat ditonton. Bahkan film-film superhero yang lagi rame-ramenya pun, sampai sekarang ada beberapa yang belum saya tonton.

Nah, beberapa hari lalu, saya kembali nonton film-film holiwud lagi. Tentu saja bukan film yang lagi happening saat ini. Bahkan ada film yang sudah tayang lebih dari 1 tahun yang lalu. Yang saya tonton lumayan banyak lah, tapi yang mau saya curhatin disini ada tiga film. Dua film superhero dan satu film romance. Berikut suara hati (beneran suara hati) saya ketika melihat film-film tersebut.

Suicide Squad & Deadpole

Waktu film Deadpole lagi rame-ramenya, banyak yang bilang film ini kocak abis. Kalau film superhero lainnya menampilkan pesona pahlawan yang keren dan kharismatik, film ini lebih memuculkan sisi humoris si pahlawan. Tapi dari awal sampai akhir film ini berlangsung, wajah saya datar-datar saja. Gak tersenyum apalagi tertawa. Guyonannya gak bisa saya tangkap. “Iki opo seh? Apane seng lucu seh?” , begitulah kira-kira suara hati saya waktu nonton film Deadpole. Ini apa saya terlalu banyak nonton drama korea apa gimana ya? Koq saya lebih ngakak lihat malaikat maut mengupas bawang dan menjemur semvak daripada lihat superhero yang katanya kocak dan antimainstream itu?

Gegara Deadpole ini, saya sempet males lihat film superhero. Kemudian gak sengajalah saya lihat teaser Suicide Squad. Sepertinya seru. Penjahat jadi superhero. Drama korea juga ada yang seperti ini. Apalagi ada Tante Harley Quinn yang bitch-bitch unyu gitu, begitu pikir saya. Setelah dapat file grentongan, saya gak begitu antusias sih, tapi karena penasaran, saya tontonlah film ini. Diawali dengan adegan suasana bumi yang mencekam karena teror makhluk asing, batin saya menjerit (wkk), “Ini koq dari dulu film holiwud perang mulu yak? Kenapa gak ada damai-damainya bumi sih? Drama Korea aja udah sampai ke percintaan antara Gendruwo dan manusia, ini koq dari dulu perang terus gak selesai-selesai. Kapan bumi damai?!!”  Kalau bukan karena pesona tante Harley Quinn mungkin belum sampai habis sudah saya hentikan nontonnya. Saya gak tau kenapa, tapi sensasi nonton superhero jaman dulu sama jaman sekarang itu beda banget. Saya gak dapat sensai tegang, berdebar-debar, terpesona dengan efek digital atau apalah namanya itu atau dengan plot twist yang bikin misuh-misuh.

The Age Of Adeline

Dibandingkan dengan nonton film-film eksyen, saya lebih nyinyir ketika menonton film romance/drama. Apalagi hidup saya ini sudah terlalu banyak drama, Eh, maksudnya apalagi saya sudah banyak nonton drama, semakin nyinyirlah saya ketika mendapati adegan atau dialog yang menurut saya iyuuuhh banget.

Terlalu sering nonton drama korea menjadikan kita- para pecinta drama- ahli dalam menebak alur cerita, adegan bahkan dialog, tul gak?? Jangan dikira ketika nonton drama korea, yang dilakukan para cewe-cewe penggila drakor hanya memandang wajah tampan sang aktor sambil mesam-mesem gak jelas. Kita juga berpikir loh. Bagaimana endingnya, sampai bagaimana nasib pemeran utamanya, juga kita pikirin loh. wkkk.

Nah, tebak-menebak alur cerita, dialog dan ending ini secara otomatif saya lakukan ketika nonton film ini. Tebakan saya terhadap film ini bakalan sad ending. Lebih tepatnya, ekspektasi saya terhadap film ini bakalan sad ending. Karena ini film holiwud, harus beda dong yah. Harus keren! Gak boleh picisan!

Jadi cerita film berikut suara hati saya seperti ini:

Seorang wanita bernama Adeline Bowman, yang lahir di tahun 1908 mengalami kecelakaan mobil ketika akan menjemput anaknya di kampung halaman. Sebuah kecelakaan yang penuh dengan keajaiban. Kecelakaan itu membuat Adeline berhenti menua. Iyes, singkat cerita Adeline masih tetep muda, seksi, mempesona meskipun umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Eh tapi si Adeline ini gak kena kutukan loh yah. hehe. Hanya saja proses penuaanya berhenti saat diusia 29 tahun. Namun karena itu, dia harus hidup berpindah-pindah dan selalu mengganti nama dan identitasnya. Dia, sebisa mungkin tidak menjalin hubungan dekat dengan seseorang, entah itu hubungan pertemanan atau hubungan asmara.

Dimalam pergantian tahun, saat menghadiri acara perayaan tahun baru, Adeline- yang saat itu bernama Jenny- bertemu dengan seorang laki-laki, mata mereka saling bertemu, dan tanpa disadari mereka saling jatuh cinta. Tapi Adeline tidak boleh jatuh cinta. Karena dia punya rahasia besar dan juga saatnya dia harus pindah ke tempat lain. Setelah acara hindar-menghindar, pada akhirnya Adeline takhluk juga pada pria brewokan itu. Adeline juga manusia keless, sekuat apapun dia, karena penderitaan hidup yang dia alami, dia juga manusia yang tidak bisa menghindar ketika cinta menyapa (yaoloh bahasaku!!). Apalagi ketika dia sedang rindu mencintai seseorang. Weenaakk.

Cinta itu membuat hidup Adeline berwarna lagi, penuh tawa dan bahagia. Ketika dia akhirnya bisa berbahagia lagi, kenangan masa lalu saat dia harus meninggalkan laki-laki yang dia cintai disaat si laki-laki hendak melamarnya, kembali mengusik pikirannya. Baper dan galaulah dia. Perasaannya semakin gak keruan ketika anjing kesayangannya mati. Diwaktu yang tidak tepat seperti ini, si pria brewok menyambangi Adeline ke rumahnya. Adeline marah dan mereka bertengkar. Dalam hati, saya sudah menebak-nebak adegan apa yang akan dilakukan Adeline ketika dia menyesal setelah mengusir si Pria brewokan. “Jangan bilang, habis ini si Adeline berlari ke arah pria brewok terus memeluknya dari belakang?!” Ternyata tidak. Syukurlah. Masa pilem holiwud memasukkan adegan mainstream dan cheesy seperti itu. Gak holiwud banget kan yah?? hhhh.

Singkat cerita Si Adeline dan pria brewokan kembali bersama. Kemudian pria brewokan mengajak Adeline mengunjungi dan menghadiri pesta universary pernikahan orang tua si pria. Dalam hati, saya menebak ” Ojo ngomong bapaknya si pria brewokan mantan pacarnya Adeline yang  dia tinggalkan saat mau melamarnya dulu?” Tapi saya membantah dugaan saya sendiri itu. Gak mungkinlah ceritanya seperti itu. Inikan pilem holiwud, bukan drama korea.

Dan ternyata, bapaknya pria brewokan memang mantan si Adeline yang dulu ditinggal pergi saat mau melamar Adeline. hahahahaha. Si bapak ternyata masih belum bisa melupakan si Adeline ceritanya. Singkat cerita, akhirnya rahasia Adeline terbongkar oleh si mantan patjar. Si bapak yakin kalau Adeline adalah Adeline mantan patjarnya dulu yang pernah meninggalkannya. Karena takut, cemas, gelisah rahasianya akan terbongkar, Adeline pergi tanpa pamit dan hanya meninggalkan pesan.  Singkat cerita lagi, si pria brewok mengetahui Adeline pergi dan kemudian menyusulnya.

Diperjalanan melarikan diri itu tiba-tiba Adeline mendapatkan kesadaran. Dia harus berhenti lari dan sembunyi. Dia harus berani memberitahukan isi hati dan rahasianya kepada pria brewok. Saat Adeline akan kembali ke rumah orang tua pria brewok, dalam hati saya mbatin lagi, ” Ojo ngomong setelah ini si Adeline kecelakaan lagi.” Dan betul sekali sodara, bbbraaakkk! mobil yang dikendarai Adeline ditabrak truk.  Singkat cerita lagi, hehe, Adeline yang tekadnya sudah bulat, tetap memberitahu si pria brewok tentang rahasianya. Karena pria brewok wes kadung cinta mati sama Adeline, diapun bisa menerima Adeline apa adanya. Ya iyalah! meskipun usia sudah 108 tahun tapi body masih 29 tahun, kulit masih kenceng dan montok, siapa yang gak mau? hehe.

Mendekati akhir film, feeling saya mengatakan lagi “Hmm.. Ojo ngomong, gara-gara tabrakan ini “kutukan” Adeline yang tidak pernah menua itu  hilang? Dan cita-cita Adeline tumbuh tua bersama orang yang dia cintai akhirnya terkabulkan??”. Ya kan, logikanya ketika mengalami kecelakaan mobil proses penuaan Adeline berhenti. Kemudian ketika dia mendapatkan kecelakaan lagi, proses yang sempat terhenti berjalan normal kembali. Tapi saya masih berharap akhir cerita yang sedih dan kereeen.

Adegan terakhir menceritakan, Adeline dan pria brewok akan menghadiri pesta. Adeline yang bodynya bikin ngiri cewe-cewe itu berhenti didepan kaca untuk mengecek penampilannya. Tapi ada satu hal yang mengalihkan perhatiaanya. Ada uban yang terselip diantara rambut cokelatnya. Kemudian dia tersenyum bahagia. Gak jadi sad ending deh.

Ealaahhh… Entah itu drama amerika, drama rusia, drama cina, drama korea, drama tetaplah drama.

keep-calm-and-enjoy-drama-5
sumber

 

 

First Impression: Drakor The Legend of The Blue Sea

lee-min-ho-and-jun-ji-hyun-star-in-the-sbs-drama-the-legend-of-the-blue-sea
Koq Bisa wanita yang baru melahirkan tubuhnya tetep langsin kayak gitu? hahaha Sumber

Iyes, sesuai dengan judul, tulisan ini hanya berisi tentang kesan pertama saya terhadap drama ini. Secara drama ini masih tayang dua episode, jadi untuk bikin reviewnya harus nunggu selesai tayang dong. Dan itu kelamaan beb. Sepertinya juga saya gak ada niatan  bikin review nantinya, jadi sekarang saya ganti dengan bikin kayak gini. hehe

Jadi, bagaimana kesan pertama terhadap drakor yang lagi heboh ini?

Buruk.

Pertama, karena lead actor-nya Lee Min Ho. Dulu ketika ada berita Jun Ji Hyun a.k.a Cheon Song Yi yo yo yo mau main drama lagi, saya lumayan tertarik, tetapi ketika tau bahwa lawan mainnya adalah Pangeran Selera Rakyat kita – yang kemudian sekarang diganti oleh Song Jong Ki – Lee Min Ho, ketertatikan saya secara tiba-tiba menghilang. Kenapa harus Lee Min Ho?!! Ganok wong lanang ganteng liyane po?. Maka dari itu saya putuskan untuk tidak akan mendonlot dan menonton drama ini – seperti halnya dengan drama-drama Lee Min Ho lainnya. Eeeehh lah koq kemudian saya gak sengaja lihat teaser-nya. Hehe. Dalam video singkat itu, mbak e Cheon Song Yi lah koq karakternya gokil, koplak dan mbladus gitu. Jadilah kemudian saya melanggar peraturan yang saya buat sendiri. Hahahahaha. *gak ngurus!*

Selain akting dan karakter Mbak e Jun Ji Hyun, yang membuat rasa penasaran saya muncul kembali adalah sutradara dan penulis skenarionya. Pak Sutradaranya  dulu pernah menggarap Master’s Sun, Doctor stranger dan Brillian Legacy. Sedangkan penulis skenarionya adalah penulis skenario My Love from another star dan The Producer. Alasan yang cukup kuat untuk berekspektasi drama ini bakalan bagus dan saya mencoba dengan sekuat tenaga utuk mengabaikan ada Lee Mih Ho disana. Hahahahahaha.

Akhirnya saat episode 1 dan 2 tayang, saya donlot dan saya lihatlah. Dan hasilnya teuteup mengecewakan. Plotnya aneh terutama di episode pertama. Episode pertama hanya fokus pada visual Jun Ji Hyun yang pake apapun bakalan terlihat cantik. Meskipun gak bisa ngomong cuma au au au saja juga bakalan terlihat cantik. Meskipun karakternya jadi orang polos bodoh dan primitif juga terlihat cantik. Selama 59 menit drama berlangsung yang diceritakan sebagian besar adalah si putri duyung yang primitif gak tau apa-apa, jalan-jalan di kota dengan cowo modern yang ganteng biasa saja. Uwes. Itu tok. Mungkin di episode pertama ini, ingin menarik perhatian dan hati pemirsa dengan adegan-adegan konyol sang putri duyung yang cantik itu. Tapi bagi saya koq malah too much. Seperti ketika kita sedang melihat pelawak yang sedang melawak dengan tema dan guyonan yang sama, berkali-kali. Jayus kan? Garing kan? Nah! Seperti ituuu…

Episode kedua sedikit mendingan daripada episode pertama. Tapi cuma sedikiittttt banget, karena diepisode kedua putri duyung sudah bisa bicara ceritanya. Sedikit ada hawa segar daripada harus lihat scene-nya Lee Min Ho terus. hehehe. Selebihnya gak ada bedanya di episode pertama. Bedanya kalau di episode ke dua, si putri duyung kencan sama brondong sambil dikejar-kejar preman. Sukanya diepisode kedua ini, dikejutkan dengan munculnya Ahn Jae Hong. Itu looh yang jadi Jung Bong Hyung di Reply 1988 kakaknya Jung Pal yang lucu ginuk-ginuk dan bikin gemesh. Rasanya seperti ada angin semilir-semilir gitu waktu Jung Bong Hyung muncul, meskipun cuma sebyentar. Kenapa gak dia aja sih yang jadi pemeran utamanya? Akting dia lebih keren dan natural daripada akting Lee Min Ho itu. *Siap-siap dikubur hidup-hidup sama fansnya Lee Min Ho* :p

Jadi begitulah kesan pertama saya terhadap drama yang hebohnya mengkalahkan Dots ini. Sejujurnya saya cukup lega dengan dua episode yang mengecewakan ini. Saya jadi tidak harus melanjutkan melihatnya. Huahahahaha. Tapi karena permintaan pelanggan sanak saudara dan teman-teman yang terus meningkat, sepertinya saya harus tetep mendonlotnya untuk kepentingan khalayak banyak.

Demikianlah beberapa sambutan dari saya selaku penikmat drama korea yang sudah mulai lelah dengan drama korea yang tidak ada habisnya ini. Sekiranya ada kata-kata yang tidak berkenan di hati LeeMinHoLover harap dimaklumi apa adanya.

Akhirul kalam, saya meramalkan, bau-baunya sih, drama ini akan menggantikan Dots sebagai drama selera rakyat pilihan pemirsa.

Atas perhatiannya saya ucapkan Terima kasih.

Sekian.

 

Review Dots:Drama Selera Rakyat

descendants-of-the-sun2
Sumber

Warning: Penuh kritikan! Yang anti kritik dilarang baca! Yang mendewakan Desendants of The Sun awas sakit hati!

Drama yang gemes banget pengen ku review akhir-akhir ini adalah Desendants of The Sun. Drama yang lagi disukai banyak orang. Dari beribu-ribu pecinta drama korea, entah itu pecinta drama korea kelas veteran atau kelas dadakan, ada sebagian kecil yang menggap drama ini konyol. Salah satu orang dari sebagian kecil tersebut adalah saya. Hehe

Ada banyak alasan kenapa saya merasa drama ini konyol. Alasan yang paling umum adalah karena drama ini adalah drama selera rakyat. Cerita yang mainstream, ringan, penuh dengan harapan dan angan-angan indah yang hampir semua orang memimpikannya— tapi gak pernah ada didunia ini. Selera rakyat adalah sebutan dari saya sendiri untuk sesuatu yang biasanya disukai banyak orang. Kalau novel biasanya ada tulisan best seller, national best seller  di sampul depannya. Entahlah, saya juga tidak tahu, karya-karya yang justru katanya best seller itu kenapa tidak masuk ke selera saya. Namanya juga selera.

Alasan khususnya, banyak sekali…  Eh, eh, eh, kamu, iya kamu, kamu pecinta Song Jong Ki garis keras bukan? Saya gak tanggung jawab loh ya, kalau kamu sakit hati… *evil*

Dari segi karakter saja sudah tidak menarik bagi saya. Karakter pemeran utamanya terlalu normatif. Yoo Si Jin, tentara yang gagah pemberani dan berwajah tampan. Rela melakukan apapun demi wanita yang disukainya. Yes… apapun itu, termasuk melanggar perintah komandan. Hellowwww…. Seorang tentara melanggar perintah??!! Aturan teko endi seng digawe?! Apalagi ini tentara sekelas tentara perdamaina PBB, saya ulangi: TENTARA PERDAMAIAN PBB. Prajurit atau tentara adalah seseorang yang mengikuti perintah. Itu jelas dan bahkan di drama ini juga sering disinggung. Lah ini koq, si kapten sering melanggar perintah sang komandan. Apalagi yah.. apalagi melanggarnya ini demi seorang wanita!! Yang lebih konyol lagi ketika mereka nguotot akan melakukan operasi pada Presiden Arab Saudi. Wakakaka… Saya ngakak misuh-misuh dibagian ini. Yang saya tau, Arab Saudi adalah negara yang paling susah diajak bernegosisai. Dan dimana-mana seorang presiden itu punya tim dokter sendiri. Kalau si presiden sedang sakit, ketika perjalanan kemanapun si dokter pasti bakalan ikut. Katakanlah skenarionya seperti di drama ini: Presiden melakukan kunjungan ke luar nengri dan dokter kepresidenan tidak ada waktu si presiden sedang sekarat. Skenario yang paling masuk akal adalah mengorbankan salah satu warga sipil untuk dijadikan kambing hitam. Itulah politik.

Kang Mo Yeon, si dokter berparas cantik dambaan semua pria dan bikin iri semua wanita. Menurudku si Dokter Kang ini sepertinya sudah lelah menjalani kehidupannya sebagai seorang jomblo, sehingga ketika ada cowo yang mendekat, girang sekali hatinya. Tapi sayanganya yang mendekati adalah seorang tentara yang super sibuk dan harus selalu mengikuti perintah komandannya bukan perintah pacarnya. Yang tidak kumengerti dari si Dokter Kang ini adalah, kenapa dia demen sekali ngambek ketika si cowo pergi bertugas? Kalau pacaran sama tentara ya konsekuensinya bakal sering ditinggal terus. Kalau gak mau ditinggal terus ya jangan pacaran sama tetara. Mbak penulis skenario, mbok ya agak keren gitu kalau bikin karakter tokohnya…

Selain karakter tokoh yang tidak mungkin ada di dunia ini dan tidak bisa dijadikan panutan, tema dari drama ini juga bikin saya bingung. Drama ini sebenarnya mau bahas apa sih? Apa yang ingin ditonjolkan dan sampai pada penonton? Tema percintaan? Politik? Medical/medis? Atau super hero? Atau semuanya? Saya menuduh si penulis hanya fokus pada cerita romansa saja: dahsyatnya jalinan kasih antara tentara dan dokter yang penuh cobaan dan ujian di medan perang dengan bumbu konflik-konflik politik yang rumit. Tapi menurutku jadinya malah wagu, gak mantesi, bukan pada tempatnya. Ya uda deh mbak penulis, kalau cuma ingin cerita romansa yang menye-menye, bikin aja cerita cinta yang tertukar atau perebutan harta atau apa kek. Gak usah ditambah masalah politik. Politik yang melegalkan segala cara untuk keuntungan pribadi rasanya lucu sekali jika dipertemukan dengan cinta yang mampu mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Bulsit banget…

Karena mungkin saya sudah gagal paham dengan tema ceritanya, saya jadi gak mudeng dengan plotnya. Sebenarnya gak begitu rumit dengan plotnya. Biasa saja. Gak ada yang istimewa. Mulus-mulus saja. Malahan menurut saya kurang smooth antara adegan satu ke adegan lainnya. Alur cerita dari satu adegan ke adegan yang lain gak bikin greget, gak bikin saya penasaran dan gak bikin saya excited. Gak ada konflik yang rumit. Apa coba konfliknya? Wong isi ceritanya cuma Yoo Si Jin yang sibuk menyelamatkan si Dokter Kang daripada menyelamatkan bangsa. Temannya si Yoo Si Jin yang jalinan asmaranya ditentang oleh Bapak dari si perempuan karena si cowo pangkatnya lebih rendah, konfliknya juga gitu-gitu aja. Dan lagi, banyak scene/ adegan yang menurutku gak penting, banyak pemeran pembantu yang gak penting juga kemunculannya. Mubazir banget…

Nonton drama ini kayak makan snack keju yang banyak micinnya. Gurihnya eneg, cheezy icik icik ehem ehem gimana gitu. Karena saya gak terlalu suka dengan snack keju—apalagi yang banyak micinnya, jadilah setiap episode saya misuh-misuh.

Adegan lain yang bikin misuh-misuh adalah saat gempa bumi. Semua orang kacau, berlari mencari pertolongan, bangunan banyak yang rusak dan tidak sedikit yang roboh. Korban berjatuhan. Banyak yang luka dan mati. Dokter Kang dan kawan-kawan mau tidak mau menjadi relawan karena mereka adalah tenaga medis. Singkat cerita, ada SATU korban yang meninggal karena diagnosis yang kurang tepat oleh dokter muda. Si dokter muda sedih tidak kepalang. Merasa dirinya gagal sebagai dokter. Korban yang mati itu ditangisi dan disuruh hidup lagi (wkkk). Kejadian itu membuat relawan yang ada situ menghentikan kegiatan menolong korban hanya untuk ikutan sedih bersama dokter muda tersebut. Saat melihat scene itu saya pengen teriak, “Wooeeyy buyar..! buyaar!! Iku loh korbanmu akeh seng arep mati gara-gara mbok tinggal tangis-tangisan! (Itu loh, korbanmu banyak yang meninggal karena kalian sibuk menangis). Wakaka… :p

Ada lagi adegan yang bikin saya meriang: ketika si dokter Kang dan dokter tentara Yoo mengoperasi pasien yang terinfeksi virus mematikan. Saat si dokter Yoo Myeon Joo dinyatakan dia positif terinveksi, sang pangeran menerobos ruang isolasi mengorbankan dirinya demi memeluk sang pujaan hati. Buakakakakakaka. Oke, sebenarnya gak ada masalah dengan adegan ini. Tapi rasanya seperti habis makan seloyang besar cheesecake. Cheesecake memang enak, tapi kalau kebanyakan yah bikin eneg. Wkkkk

 Jangan dikira, cuma saya saja yang misuh-misuh karena drama ini. Orang korea sendiri banyak yang mengkritik drama ini loh… Salah satunya karena di drama ini terlalu banyak iklannya. Sebenarnya sudah biasa di drama korea menampilkan iklan atau sponsor yang mendukung acara tersebut. Tapi ada satu adegan yang gak banget. Wakakaka… Ceritanya ingin mengiklankan mobil yang ada tombol mengemudi otomatis (auto pilot). Jangan dikira adegan yang ada adalah adegan tembak-tembakan seru tentara pasukan khusus yang dipimpin Kapten Yoo Si Jin saat melindungi Presiden Korea Selatan karena mendapat serangan dari Korea Utara. Adegan yang bisa membuat penonton berdecak kagum dan pengen beli mobil canggih itu. Mobil yang canggih dan keren itu, kalau kalian tau dipakai adegan kissing di dalam mobil yang sedang berjalan! Faaakkk!!! Hambok peliiss reekkk, kalau mau lebih ekstrem kenapa gak sekalian kissing saat bergelantungan di helicopter ketika misi penyenyelamatan??!! wkkkk… :v

Tapi, ada satu hal yang positif dari drama ini yaitu konsisten dengan cerita yang mainstream dan cheezy sampai akhir! Karena fairytale,  harus berakhir happily ever after dong… Mereka semua hidup bahagia selamanya. Yoo Si Jin dan Song Dae Yeong yang sudah diumumkan berita kematiannya, tiba-tiba hidup kembali dan muncul ditengah padang pasir dan hujan salju. Wakakaka… Dan penderitaan saya saat menonton episode terakhir yang super memosankan ditutup dengan sempurna oleh sebuah epilog, “ Bukannya kalian menyukai akhir seperti ini? Kami mengatasi semua masalah dengan cinta dan hidup bahagia selama-lamanya.” the end. FAAKKKK!! Mengatasi semua masalah dengan cinta jareee….

Disaat saya mau posting tulisan ini, tanpa sengaja menemukan artikel di muvila.com yang mengatakan bahwa, akhir drama ini sebenarnya sad ending, tapi karena si penulis mendapat banyak protes dari penonton, dan mungkin karena penulis takut drama-drama berikutnya gak laku jika dia tidak mengikuti keinginan penonton, di last minutes, penulis merubah cerita menjadi happy ending. Duuh..duuh… segitu besarnya kah keinginan orang-orang ini mempunyai hidup bak di negeri dongeng yang berakhir bahagia selamanya?

Nothing last forever gaes, sebuah akhir adalah awal dari sesuatu dan setiap awal mempunyai akhir yang akan menjadi awal dari sesuatu. 😀